Dibalik Pintu Itu, Bang Arie Menahan Rasa Sakit

BERITASULTENG.ID – Saat menerima kabar duka wafatnya bang Arie Wijaya, rabu malami (18-5). Aku antara percaya dan tidak percaya.

Beberapa hari sebelumnya, di grup whaatsap Presidium FPII masuk info, Bang Arie Wijaya masuk rumah sakit, seperti biasa terposting gambar bang Arie terbaring ditempat tidur rumah sakit.

Memang dalam beberapa tahun terakhir, acap kali berhembus kabar, bang Arie sakit dan dirawat dirumah sakit. Namun, selebihnya info bang Arie sehat-sehat saja, tetap aktif menjalankan tugas-tugas jurnalistik termasuk menjalankan tugas jabatannya sebagai Ketua FPII Setwil Bangka Belitung.

Kabar duka dari Pangkal Pinang itu, adalah takdir dan ketetapan-Nya, sontak pikiranku menerawang jauh ke kota Pangkal Pinang Bangka Belitung.

Dikota nan asri itu, ku pertama kali mengenal sosok Arie Wijaya, bukan cuma mengenal sosok atau kepribadiannya tetapi juga memahami loyalitas dan kepeduliannya untuk mengembangkan FPII.

Tanggal 14 sd15 desember 2019 di kota Pangkal Pinang Bangka Belitung….dua hari waktu yang cukup untuk mengenal sosok Arie Wijaya, saat itu kami banyak diskusi yang kutahu orangnya berkarakter, tegas, tapi memiliki kepribadian yang ramah dan peduli,

Dalam dua hari itu, Bang Arie bersama kawan-kawan di Babel, lagi jadi tuan rumah agenda Mukernas FPII ke-3.

Ramai tuh acaranya, sejumlah pengurus FPII menghadiri Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) FPII ke III pada tanggal 14-15 Desember 2019 di Hotel PIA, Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung. diantarannya dari Setwil Jawa Barat Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Riau, rermasuk tuan rumah Bangka Belitung.

Nggak ke bayangkan sibuknya Bang Arie, dkk kala itu, aku sempat ikuti kesibukan Bang Arie mulai dari tahap penjemputan peserta di bandara, memastikan semua peserta mendapatkan pelayanan terbaik, sampai dengan memastikan Mukernas menghasilkan putusan-putusan terbaik untuk FPII.

Salah satu point putusan Mukernas saat itu adalah ditetapkannya iuran wajib Setwil FPII dan kutahu Bang Arie kala itu jadi pioner untuk.menggolkan putusan itu, dia sibuk menggalang kesepahaman, bahkan sampai memandu langsung agenda oersidangannya hingga ditetapkan putusannya….sayang yaa “buah karya” bang Arie Wijaya itu, belum berjalan efektif sampai sekarang…ini masih menjadi pekerjaan rumah untuk kita.

Dalam Mukernas FPII di Babel itu, ada peristiwa miris yang sulit kulupa. Malam itu, minggu (15/12/2019) keluarga besar FPII saat itu lagi nyantai di cafe hotel PIA Tanjung Pinang, sambil nikmati hiburan musik elekton, nyanyi gantian, asyik..rame.., kulihat Bang Arie ikut menikmati suasana itu, dengan tawa dan senyum khasnya.

Beberapa menit kemudian aku menuju toilet, saat ku buka pintu, aku terkejut…ternyata ada bang Arie Wijaya disitu..lagi berbalik badan bersandar ditembok, sembari tangan kanannya memegang dadanya, kulihat benar bang Arie menahan rasa sakit yang luar biasa, aku dapat merasakannya saat itu.

“Bang Arie kenapa ?” sapaku sambil mendekat berupaya memegang tubuhnya. “Nggak apa-apa bang, biasa” ucap bang Arie sedikit memperlihatkan wajahnya.

Kipikir saat itu bang Arie cuma kecapean, akupun keluar kamar toilet dan kembali bergabung dengan kawan-kawan, lanjut nyantai.

Sejurus waktu kemudian bang Arie kulihat udah gabung lagi nyantai bersama teman-teman, senyumnya tetap sumringah, nyaris tak ada rasa sakit.

Malah yang ku ingat malam itu, bang Arie Wijaya masih menyampaikan sambutannya.”Terimakasih kepada Ketua Presidium dan jajarannya, Para Ketua Setwil dan jajarannya yang telah hadir, dan tak lupa kepada kawan-kawan Pengurus FPII Setwil Babel yang telah mempersiapkan kegiatan nasional ini, ” ucap Ary kala itu.

Ketika takdir memanggilnya, ada kesan dan pesan berharga yang telah ditinggalkan bang Arie Wijaya kepada kita, kepada seluruh keluarga besar FPII se indonesia, ini terkait dedikasi, loyalitas, pengabdian dan kepedulian terhadap organisasi FPII yang telah beliau tunjukkan, padahal dalam kesendirian bang Arie setiap waktu berperang dengan penyakitnya, menahan rasa sakit…kita tak pernah tau itu, sampai waktu telah menjemputnya.

Selamat jalan Bang Arie Wijaya, Pejuang FPII..semoga kuburnya dilapangkan, ditempatkan disisi-NYA dan istri/anak/keluarga serta kerabat yang ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan dan kesabaran. Amin Yra.

Penulis : Irfan Denny Pontoh
Sekretaris Nasional Forum Pers Independent Indonesia