Palu, beritasulteng.id – Keberadaan tambang di kelurahan Poboya yang sejak 2008 mencuat ke permukaan di Kota Palu dan dijadikan ladang mata pencaharian bukan hanya warga Poboya sajah, akan tetapi hampir seluruh masyarakat Pasigala, dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat yang mengantungkan hidupnya di tambang tersebut.
Walaupun kita ketahui bersama, sejak hampir tujuh tahun terakhir ini areal lokasi pertambangan poboya, sudah di masuki para investor – investor yang melakukan investasi di tambang Poboya, salah satunya yang bernaung di Bakrie Grub yakni PT.Citra Palu Mineral ( CPM ), namun Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia ( APRI ) Provinsi Sulawesi Tengah tidak pernah mau menghalangi keberadaan para investor tersebut untuk berinvestasi di Poboya.
Memang sejauh ini kami melihat adanya PT.CPM yang beroperasi di wilayah tambang Poboya telah, merekrut beberapa warga Poboya, Lasoani, Tanamodindi, Kawatuna dan beberapa kelurahan di Kota Palu untuk di pekerjakan.
Akan tetapi masih sajah terjadi hal – hal yang membuat para warga penambang dan warga Poboya belum bisa menerima berbagai keputusan yang telah di buat oleh pihak PT. CPM, yang kami nilai tidak sejalan dari harapan dan tujuan bersama dengan para warga penambang dan masyarakat Poboya, cetus Ketua APRI Sulteng Sofyar,SP.

Dengan kedatangan kami APRI Sulteng dan Tokoh Adat, Ketua LPM serta perwakilan masyarakat Poboya di ruang sidang paripurna DPRD Kota Palu, Pada Selasa 31/05/2022 di Rapat Dengar Pendapat ( RDP ), untuk mencari solusi terbaik terkait adanya persoalan – persoalan di tambang Poboya.
APRI Sulteng, sebagai organisasi yang betul – betul bergerak memberikan dukungan kepada masyarakat untuk bisa mengelola sumber daya alamnya, ” Kami tidak anti terhadap investasi, tetapi masyarakat juga harus diberikan ruang buat mereka untuk bisa berdaulat di wilayahnya sendiri, jangan mereka mengambil hasil bumi kita, masyarakat yang di kampung, sementara masyarakat hanya jadi penonton, itu yang kami perjuangkan “, tegas Sofyar.

Jadi kami bersamaan datang, karena ini betul – betul dari aspirasi masyarakat yang kami perjuangkan, kami tidak punya niatan apapun di sana, kalaw rakyat bisa bekerja, kami sebagai APRI pun bisa ikut – ikut bisa sebagai pekerja, tapi kalaw masyarakat tidak bisa bekerja, apa yang mereka pakai untuk menghidupi keluarganya setiap hari, kalaw untuk beraktifitas di halang – halangi, tuturnya.
Justru itu kami datang ke rumah rakyat, karena kami punya masalah, di sana ada masalah, kami inggin berbagi masalah, supaya kita berpikir bersama – sama cari solusinya, kami tidak pingin dengar daerah kami kacau.
Kami tidak anti investasi, tapi kami harap mereka yang hadir di sana ( Para pemilik investasi ), silahkan kamu ambil tapi peduli lah dengan masyarakat di lokasi tambang Poboya, kami butuh keadilan, yang kami perjuangkan kali ini adalah keadilan, bagaimana investasi tapi tetap harus perhatikan kearifan lokal warga di wilayah Poboya, pintahnya.
Perlu di ketahui warga yang mencari nafkah di lokasi tambang Poboya, bukan hanya warga Poboya akan tetapi warga Pasigala turut mencari nafkah di lokasi tersebut, jadi harapan untuk mencari rejeki di Poboya sangat besar, kenapa sekarang ini harus di hentikan, kami ini ibarat orang asing di kelurahan kami, dan kenapa tiba – tiba di batasi ruang gerak warga untuk mencari rejeki di Poboya setelah adanya investasi.
Itu yang jadi kepedulian kami dari APRI Sulteng untuk memperjuangkan dan peduli dengan para warga penambang dan masyarakat Poboya, ungkap Sofyar. ( Nasir Tula ).







