Toto Mulyono Meninggal di Tambang PT CPM, DPN: Pekerja Bukan Tumbal Proyek”

Editor ; Moh.Nasir Tula

Palu, beritasulteng.id – Kecelakaan kerja yang menewaskan Toto Mulyono (53), operator alat berat di PT Citra Palu Mineral (CPM), menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak. Insiden tragis tersebut terjadi di kawasan tambang Poboya, Kota Palu, dan memicu kekhawatiran luas terkait lemahnya sistem keselamatan kerja di sektor pertambangan.

Dewan Pertukangan Nasional (DPN) Wilayah Sulawesi Tengah turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya almarhum. Ketua DPN Sulteng, Andri Gultom, menilai kejadian ini bukan kecelakaan biasa, melainkan indikasi serius dari buruknya penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan industri tambang.

“Pekerja bukan tumbal proyek. Ini adalah kegagalan sistemik dalam melindungi nyawa pekerja. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keselamatan kerja di PT CPM,” tegas Andri dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/7/2025).

Menurut Andri, insiden ini memperlihatkan bahwa perusahaan masih mengutamakan target produksi daripada keselamatan pekerja. Toto Mulyono, yang telah berpengalaman puluhan tahun di sektor tambang, semestinya pulang ke rumah dengan selamat, bukan dalam peti jenazah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dan transparan dari manajemen PT CPM mengenai kronologi kejadian maupun langkah konkret penanganan terhadap keluarga korban. Hal ini, menurut DPN, menunjukkan rendahnya akuntabilitas perusahaan.

DPN Sulteng pun menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah dan pihak terkait, antara lain:

Melakukan audit menyeluruh terhadap standar K3 dan pelatihan kerja di lingkungan PT CPM.

Memastikan pemberian santunan yang layak kepada keluarga korban, tidak sekadar formalitas administrasi asuransi.

Mendorong pembentukan serikat pekerja independen dan memperkuat pengawasan ketenagakerjaan di sektor tambang.

Melibatkan aktif BPJS Ketenagakerjaan dalam penyelidikan dan pemenuhan hak-hak normatif keluarga korban.

Lebih jauh, DPN Sulteng menyerukan solidaritas di kalangan pekerja tambang dan konstruksi untuk membentuk jaringan perlindungan kerja demi mencegah terulangnya tragedi serupa.

“Hari ini Toto Mulyono, besok bisa siapa saja. Jangan tunggu korban berikutnya baru kita bergerak,” tegas Andri.

DPN Sulteng menyatakan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas dan siap berkontribusi dalam gerakan sipil yang menuntut keadilan dan perlindungan yang lebih baik bagi para pekerja di sektor berisiko tinggi.