Jakarta, beritasulteng.id – Perjalanan panjang Tim Gerakan Rakyat Untuk Daerah (GARUDA) Provinsi Sulawesi Tengah dari Kota Palu menuju Jakarta bukan sekadar perjalanan lintas pulau dan provinsi. Perjalanan ini merupakan bagian dari perjuangan menyuarakan keadilan fiskal, menuntut hak Dana Bagi Hasil (DBH), serta memperjuangkan kedaulatan ekonomi daerah atas kekayaan sumber daya alam yang terkandung di bumi Sulawesi Tengah.
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, Tim Garuda Sulteng bertolak dari Kota Palu dengan membawa satu tekad dan semangat perjuangan yang sama, menyampaikan aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah melalui aksi damai di ibu kota negara.
Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya alam melimpah, mulai dari nikel, emas, gas bumi, hingga berbagai komoditas pertambangan dan kekayaan alam lainnya. Namun, di tengah besarnya potensi ekonomi tersebut, persoalan pemerataan hasil pengelolaan sumber daya alam dan keadilan Dana Bagi Hasil masih menjadi tuntutan penting masyarakat daerah.
Bagi Garuda Sulteng, kekayaan alam yang berasal dari tanah Sulawesi Tengah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat. Pembangunan daerah, kesejahteraan rakyat, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pengentasan kemiskinan tidak boleh terus tertinggal di tengah besarnya aktivitas ekonomi yang bersumber dari kekayaan alam daerah.
DARI PALU, DONGGALA, BALIKPAPAN, HINGGA JAKARTA: PERJALANAN PERJUANGAN RAKYAT
Dengan semangat kebersamaan, Tim Garuda Sulteng memulai perjalanan dari Palu menuju Donggala. Dari wilayah pesisir Sulawesi Tengah tersebut, perjalanan dilanjutkan melalui jalur laut menggunakan Kapal Dharma Kencana V menuju Balikpapan, Kalimantan Timur.
Di tengah perjalanan laut, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, Tim Garuda Sulteng menyampaikan maklumat berupa naskah Sumpah Pemuda dengan perspektif perjuangan daerah. Aksi tersebut turut menarik perhatian para penumpang kapal.
Semangat perjuangan terus menyala meskipun anggota tim sementara harus meninggalkan keluarga di Sulawesi Tengah, serta menghadapi gelombang laut, jarak tempuh yang panjang, dan berbagai tantangan perjalanan. Namun, semua itu tidak menyurutkan tekad mereka.
Justru perjalanan panjang tersebut semakin mempererat persaudaraan, solidaritas, dan kesatuan semangat di antara seluruh anggota tim.
Setibanya di Balikpapan, perjalanan dilanjutkan menuju Surabaya, Jawa Timur. Kota Pahlawan menjadi salah satu persinggahan penting sebelum rombongan meneruskan perjalanan menuju Jakarta.
Dari Stasiun Surabaya Pasar Turi, Tim Garuda Sulteng kembali melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api menuju ibu kota negara.
Bagi mereka, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lainnya. Ini adalah perjalanan membawa suara masyarakat Sulawesi Tengah, suara daerah penghasil sumber daya alam yang menuntut keadilan atas hak-hak fiskalnya.
GARUDA SULTENG: KEKAYAAN ALAM DAERAH JANGAN HANYA DINIKMATI PUSAT
Koordinator Tim Garuda Sulteng, Andi Ridwan Bataraguru, menegaskan bahwa keberangkatan rombongan menuju Jakarta merupakan bukti keseriusan gerakan tersebut dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah.
Menurutnya, ketimpangan hubungan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah harus menjadi perhatian serius. Daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam seharusnya memperoleh manfaat yang adil dan proporsional dari hasil pengelolaan kekayaan tersebut.
“Kami datang ke Jakarta bukan untuk meminta belas kasihan pemerintah pusat. Kami datang untuk menuntut hak daerah, khususnya Dana Bagi Hasil Provinsi Sulawesi Tengah. Jangan sampai kekayaan alam kami terus dieksploitasi, sementara rakyat di daerah penghasil masih berhadapan dengan kemiskinan, ketimpangan pembangunan, dan keterbatasan kesejahteraan,” tegas Andi Ridwan Bataraguru, Pada Sabtu 31 Oktober 2026.

Ia juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai praktik kolonialisme ekonomi dan sentralisme kekuasaan yang selama ini dinilai merugikan daerah penghasil sumber daya alam.
“Garuda Sulteng datang untuk menuntut Dana Bagi Hasil Provinsi Sulawesi Tengah. Kami melawan kolonialisme kompeni dan sentralisme pusat yang, dalam pandangan kami, menjadi salah satu akar ketimpangan dan kemiskinan daerah. Jangan jadikan Sulawesi Tengah hanya sebagai ladang eksploitasi sumber daya alam, sementara kesejahteraan rakyatnya terabaikan,” tegasnya.
Bagi Garuda Sulteng, perjuangan Dana Bagi Hasil bukan semata-mata persoalan angka dalam APBD. Lebih dari itu, DBH merupakan bagian dari perjuangan keadilan ekonomi, pengakuan terhadap kontribusi daerah penghasil, serta tanggung jawab negara dalam mewujudkan pemerataan pembangunan.
MELAWAN SENTRALISME, MEMPERJUANGKAN KEADILAN DAERAH
Garuda Sulteng memandang bahwa pembangunan nasional tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan kepentingan pusat. Pembangunan harus memastikan bahwa masyarakat di daerah penghasil juga menikmati manfaat dari kekayaan sumber daya alam yang berada di wilayahnya.
Kritik terhadap sentralisme bukan berarti menolak keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebaliknya, perjuangan ini merupakan tuntutan agar prinsip keadilan sosial, pemerataan pembangunan, dan desentralisasi benar-benar diwujudkan dalam hubungan pemerintah pusat dan daerah.
Sulawesi Tengah tidak boleh hanya dikenal sebagai daerah penghasil nikel, emas, dan gas bumi. Sulawesi Tengah juga harus menjadi daerah yang masyarakatnya menikmati kesejahteraan, memperoleh akses pembangunan yang layak, serta memiliki masa depan ekonomi yang lebih baik.
AKSI DAMAI, PERJUANGAN BERMARTABAT
Dalam menyampaikan aspirasi di Jakarta, Tim Garuda Sulteng tetap mengedepankan kedisiplinan, persatuan, dan sikap saling menghormati.
Seluruh anggota tim berkomitmen menjalankan aksi secara damai, tertib, tanpa kekerasan, serta tetap menjaga fasilitas umum dan menghormati hak masyarakat lainnya.

Bagi Garuda Sulteng, perjuangan tidak selalu harus dilakukan melalui tindakan keras. Keberanian menyampaikan kebenaran, keteguhan mempertahankan aspirasi, serta kemampuan menjaga persatuan merupakan bagian penting dari perjuangan demokrasi.
Suara rakyat harus disampaikan dengan keberanian, tetapi juga dengan tanggung jawab dan martabat.
DARI TANAH SULTENG UNTUK KEADILAN INDONESIA
Dari Palu, Donggala, Balikpapan, Surabaya hingga Jakarta, perjalanan Tim Garuda Sulteng menjadi gambaran semangat masyarakat daerah dalam memperjuangkan hak dan keadilan.
Mereka hadir bukan sekadar melakukan perjalanan panjang menuju ibu kota. Mereka membawa tuntutan agar kekayaan sumber daya alam Sulawesi Tengah memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat daerah.
Perjuangan ini membawa satu pesan penting, daerah penghasil sumber daya alam tidak boleh hanya menjadi penonton atas kekayaan yang berasal dari tanahnya sendiri.
Garuda Sulteng menegaskan bahwa Dana Bagi Hasil merupakan salah satu instrumen penting untuk mewujudkan keadilan fiskal dan pemerataan pembangunan.
Selama kekayaan alam Sulawesi Tengah masih menjadi sumber pertumbuhan ekonomi nasional, selama itu pula tuntutan atas keadilan, hak daerah, dan kesejahteraan rakyat harus terus diperjuangkan.
Dari Sulawesi Tengah untuk Indonesia, Garuda Sulteng membawa suara daerah: pembangunan harus adil, kekayaan alam harus membawa kesejahteraan, dan rakyat di daerah penghasil tidak boleh ditinggalkan.







