Palu, beritasulteng.id – Menyikapi adanya insiden aksi di demo secara spontan warga yang mendatangi Kantor PT.AKM dimana telah terjadi pengrusakan belum lama ini, dan pemblokiran jalan yang dilakukan oleh warga Poboya dan Penambang.
Hal ini dilakukan semata – semata hanya untuk menuntut bisa kembali melakukan aktivitas tambang seperti biasanya.
Atas aksi tersebut selalu Ketua Adat Poboya Moh Djafar mengatakan sejak kehadiran perusahaan PT CPM yang bergerak di bidang tambang emas di Kota Palu, diakuinya telah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Kota Palu khususnya warga Poboya.
Namun disisi lain masih sajah ada terdapat warga Poboya yang menjadi penambang tradisional selama ini belum mendapat kepastian ruang tambang dari pemerintah daerah, yang selama ini telah di perjuangan oleh para Tokoh Poboya, agar keingginan untuk bisa menambang bisa terealisasi, tutur Moh.Djafar, Pada Minggu 16 /10/2022.
Dengan hal itu melalui Lembaga Adat Poboya telah berupaya maksimal membangun komunikasi dan berdialog dengan pihak terkait baik itu ke perusahaan, Pemerintah Daerah/Kota, DPRD, Komnas HAM Sulteng guna menyampaikan aspirasi warga Poboya agar ada solusi tambang yang terbaik bagi masyarakat Poboya.

Dalam upaya penyelesaian persoalan tambang Poboya sebelumnya sempat terjadi peristiwa perusakan dan penganiayaan di Kantor PT AKM selaku subkon PT CPM ( kejadian pada tgl 18 September 2022), ucapnya.
Untuk itu dalam menjaga keamanan dan agar tidak terulang kembali kejadian tersebut, selaku Ketua Adat Poboya selalu menghimbau warga masyarakat Poboya dan lingkar tambang melalui tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh pemuda agar tidak mudah terprovokasi yang nantinya dapat menimbulkan permasalahan baru dan akan merugikan warga Poboya sendiri.
Tentunya kami berharap segera ada solusi tambang Poboya dengan keseriusan dan komitmen bapak Gubernur Sulteng bersama pihak terkait untuk memperhatikan nasib warga penambang Poboya. ( Nasir Tula )

