Pasca Insiden, Warga Poboya Dan Penambang Sesali Adanya Pertemuan Gubernur Sulteng Dengan Pihak CPM dan AKM Tampa Melibatkan Ketua Adat Dan LPM Poboya

Palu, beritasulteng.id – Pasca adanya insiden penyerangan di sertai pengrusakan di perusahaan milik PT.AKM oleh warga Poboya dan penambang, Pada Minggu sore ( 18 / 09 / 2022, secara spontan dan telah beredar vidionya semua grub Whatsap dan media sosial.

Di mana hasil penelusuran wartawan media ini di lokasi dan mengikuti pertemuan dengan warga Poboya dan penambang pasca insiden, yang di pimpin oleh ketua Adat, sekretaris adat,ketua LPM Poboya, sampai kurang lebih jam 11 malam. awal dari titik kemarahan warga Poboya dan penambang di karenakan adanya bahasa yang kurang sopan ataupun bahasa yang menantang warga Poboya dan penambang yang sejak tiga hari bertahan melakukan pemblokiran jalan menuju lokasi kantor CPM dan AKM.

Bahasa yang tidak layak di dengar keluar dari mulut dari salah satu pimpinan eksternal milik perusahaan AKM Jacob yang jadi korban amukan masa itu lah yang memicu aksi perontal kejadian kemarin sore.

Kurang lebih satu jam Pasca insiden gubernur Sulawesi Tengah H. Rusdy Mastura bersama Kapolres Palu dan pihak CPM dan AKM melakukan pertemuan di kantor CPM, membahas adanya insiden tersebut dan mengeluarkan keputusan bersama dan di tanda tangani oleh Kepala Tehnik Tambang CPM Yan Ardiyansah.

Atas keputusan itulah yang di terima langsung oleh Ketua Adat Poboya melalui pesan Whatsap dan kemudian beliau meneruskan pesan tersebut ke grub Whatsap Poboya, dan langsung di bacahkan tepat jam delapan malam oleh salah satu pemuda bernama Faizul, di hadapan warga Poboya dan penambang.

Setelah mendengar hasil keputusan yang sudah di bacakan, seluruh yang hadir malam itu pun menyatakan kekesalan atas keputusan tersebut di mana mereka menilai jelas tidak pro ke rakyat, dimana kami sedang berjuang agar bisa kembali melakukan aktivitas di lokasi tambang ini justru ada pertemuan dan dihadiri langsung gubernur tampa kehadiran kami – kami ini, kesal ketua adat Poboya Moh.Djafar.

Kami sangat menyayangkan pertemuan tersebut, dan kami pun menyayangkan mengapa pak gubernur tidak menemui kami bersama warga Poboya dan penambang di sini, justru hanya datang temui pihak perusahaan dan melakukan pertemuan.

Kami disini menunggumu pak gubernur untuk mendengar arahann dan keluhan, kami ini sudah capek dan lelah berjuang dengan warga Poboya dan penambang untuk bisa beraktivitas di lokasi tambang, tapi mengapa kami harus di larang dan di takut – takuti, apa salah kami, akunya saat di hadapan warga Poboya dan penambang semalam yang sedang berkumpul dengan jumlah ratusan, dan besok Senin 19/09/2022 akan ada aksi dari warga Poboya dan penambang di lokasi ini.

Kami ini taat hukum dan akan tetap berjuang bersama – sama di sini untuk menuntut keadilan dan hak – hak kami, jangan kami selalu di salahkan di mata hukum, kami ini bukan pencuri di daerah kami, kami inggin makan, kami inggin hidup layak dan mencari rejeki buat keluarga, ucapnya dengan nada sedih dan penuh semangat.

Jadi pak gubernur tolong kami, jangan hanya lihat sepihak ke perusahaan, kami ini sudah berapa kali lakukan pertemuan dengan pihak perusahaan, tapi sayangnya semua kesepakatan selalu di langgar oleh mereka, itulah mengapa warga Poboya dan penambang bersatu memblokir jalan menuju perusahaan sudah tiga hari, dan puncaknya batas kesabaran mereka pun sudah hilang sehingga terajadi aksi seperti kemarin.

Tampa kami sendiri pun tidak mengetahuinya dan kami tidak berada di lokasi, karena sedang adanya pertemuan di sidang adat Souraja Banua Oge kelurahan Lere.

Kami ketahui setelah adanya informasi dari warga dan Vidio yang di kirim ke kami, sehingga kami dan tokoh – tokoh adat langsung menuju ke Poboya untuk memberikan nasehat – nasehat agar warga bisa tenang, sabar setelah adanya penyerangan ke perusahaan, dan tetab semangat, bersatu untuk berjuang.

Setelah selesainya sidang adat atas kesalahan saudara Musliman yang telah melakukan penghinaan adat Poboya dan raja – raja di Sulawesi Tengah, jelas Djafar yang sering – sering di panggil papa Tingi. (Nasir Tula)