Editor ; Moh.Nasir Tula
Palu, beritasulteng.id – Karsa Institute bersama Digiglo and Co melanjutkan penguatan kapasitas ekonomi penyandang disabilitas melalui Program Kelompok Usaha Bisnis Inklusif 2.0 (KUBIK 2.0).
Salah satu rangkaian program tersebut adalah Lokakarya Tren dan Penguatan Kewirausahaan yang digelar di Satriya Meeting Room, Karsa Institute, Jalan Tanggul Selatan, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, pada 27–28 Agustus 2026. Kegiatan ini diikuti 23 peserta dengan latar belakang dan karakteristik yang beragam.
Fasilitator sekaligus mentor dari PT Digiglo Inovasi Cipta, Asi Gumilang, mengatakan program tersebut tidak dirancang sebagai pelatihan yang berhenti setelah lokakarya. Menurut dia, kegiatan merupakan bagian dari proses penguatan kapasitas yang akan dilanjutkan melalui pendampingan sesuai kebutuhan peserta.
“Program ini tidak diarahkan sebagai pelatihan satu kali, tetapi merupakan bagian dari proses penguatan kapasitas yang akan dilanjutkan melalui pendampingan sesuai kebutuhan setiap individu,” kata Asi Gumilang, Pada 28 Agustus 2026.
Lokakarya tersebut terbagi dalam empat sesi utama, yakni Tren Bisnis dan Peluang Usaha, Literasi Keuangan Usaha, Strategi Pemasaran dan Pemasaran Digital, serta Praktik Penyusunan Ide Bisnis.
Proses pembelajaran difasilitasi oleh tim Karsa Institute bersama Tari, Mila, dan Asi Gumilang. Selain mendapatkan materi, peserta terlibat dalam diskusi dan praktik dengan menggunakan pengalaman masing-masing sebagai bahan pembelajaran.
Pada sesi awal, peserta melakukan pemetaan potensi melalui metode catatan tempel. Mereka mengidentifikasi keterampilan, minat, dan pengalaman yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan usaha.
Sejumlah potensi yang muncul antara lain memasak, berjualan makanan dan minuman, beternak, membuka bengkel, jasa cuci motor, serta membuat kerajinan. Pemetaan tersebut menjadi bagian dari proses peserta mengenali kemampuan dan pengalaman yang dapat dikembangkan dalam kegiatan ekonomi.
Pada sesi literasi keuangan, peserta diperkenalkan pada sejumlah konsep dasar pengelolaan usaha, seperti modal, omzet, biaya, laba, pencatatan transaksi, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta penentuan harga jual.
Materi disampaikan menggunakan contoh yang berkaitan dengan aktivitas usaha sehari-hari. Peserta kemudian diajak memahami penerapan pencatatan dan pengelolaan keuangan dalam usaha yang mereka jalankan atau rencanakan.
Materi berikutnya membahas pemasaran konvensional dan digital. Peserta diperkenalkan pada penggunaan sejumlah platform digital, seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok, untuk memperkenalkan produk dan menjangkau calon konsumen.
Kegiatan ditutup dengan praktik penyusunan rencana bisnis sederhana. Peserta menyusun sejumlah komponen, antara lain produk yang ditawarkan, sasaran konsumen, keunggulan produk, harga, kebutuhan modal, strategi promosi, serta target yang ingin dicapai dalam 30 hari.
Pelaksanaan lokakarya juga menunjukkan adanya kebutuhan pendampingan yang berbeda di antara peserta. Peserta dengan disabilitas fisik dapat mengikuti sebagian besar proses pembelajaran, sedangkan peserta dengan disabilitas intelektual memerlukan instruksi yang lebih sederhana, pengulangan materi, dan pendampingan yang lebih personal.
Perbedaan kebutuhan tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi bagi penyelenggara dalam merancang tahapan pendampingan berikutnya agar pendekatan yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta.
Karsa Institute bersama Digiglo and Co menyatakan bahwa proses pendampingan akan dilanjutkan setelah lokakarya. Peserta yang telah memiliki usaha akan mendapatkan penguatan pada aspek manajemen, keuangan, dan pemasaran. Peserta yang baru memiliki gagasan usaha akan didampingi dalam proses validasi produk dan uji pasar.
Sementara itu, peserta yang masih mencari arah usaha akan mendapatkan pendampingan untuk mengeksplorasi potensi secara bertahap.
KUBIK 2.0 dirancang sebagai program berkelanjutan yang mencakup pemetaan, pendampingan, praktik, pemantauan, dan evaluasi. Penyelenggara menempatkan kemampuan peserta dalam mengembangkan potensi dan menjalankan kegiatan produktif sebagai bagian dari proses menuju kemandirian ekonomi.
Dokumentasi foto: Azwar Anas







