SMK Go Global, Wagub Sulteng Dorong Generasi Muda Siap Bekerja di Luar Negeri

Editor ; Moh.Nasir Tula

Palu, beritasulteng.id – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido menegaskan bahwa program SMK Go Global menjadi salah satu upaya mempersiapkan generasi muda Sulawesi Tengah agar memiliki kompetensi, mental, dan karakter yang dibutuhkan sebelum memasuki dunia kerja internasional.

Hal itu disampaikan Reny saat membuka Kick Off SMK Go Global dan Peningkatan Kapasitas Calon Pekerja Migran Provinsi Sulawesi Tengah di Aula SMK Negeri 1 Palu, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara serentak melalui Zoom Meeting bersama Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin dan peserta dari sejumlah daerah di Indonesia.

Dalam kegiatan itu, Wakil Gubernur secara simbolis menyerahkan tanda peserta kepada calon pekerja migran yang akan mengikuti rangkaian pembekalan.

Reny mengapresiasi pelaksanaan program tersebut dan berharap alokasi anggaran serta kuota bagi peserta asal Sulawesi Tengah dapat ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.

Menurutnya, minat masyarakat Sulawesi Tengah terhadap program tersebut cukup tinggi. Dari sekitar 1.750 pendaftar, sekitar 500 orang masuk dalam daftar peserta, sementara 220 orang dinyatakan lolos dan akan mengikuti program pada 2026.

“Insya Allah kalau tahun-tahun mendatang alokasi anggaran untuk anak-anak kami yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah bisa ditambah,” kata Reny.

Menanggapi hal tersebut, Menteri P2MI Mukhtarudin menjelaskan bahwa keterbatasan kuota tahun ini dipengaruhi oleh ketersediaan anggaran yang bersumber dari anggaran belanja tambahan (ABT) dan harus dialokasikan secara proporsional untuk seluruh Indonesia.

Ia menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan alokasi anggaran yang lebih besar untuk program 2027. Peserta yang telah mendaftar tetapi belum memperoleh kesempatan pada 2026 juga akan kembali diberikan kesempatan mengikuti proses seleksi untuk program tahun berikutnya.

Menurut Menteri, persiapan program 2027 akan dimulai sejak Januari sehingga waktu pembekalan bagi peserta dapat dilakukan lebih panjang.

Kepada para peserta, Reny berpesan agar memiliki tekad dan kesiapan mental ketika memutuskan bekerja di luar negeri, termasuk menghadapi kondisi jauh dari keluarga dan lingkungan asal.

“Kalau sekali ada yang bertekad untuk keluar dari Palu, pantang untuk kembali kalau tidak berhasil,” ujarnya.

Reny mengatakan, kesempatan bekerja di luar negeri tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, tetapi juga dapat menjadi sarana memperoleh pengalaman, meningkatkan kompetensi, dan membangun kemandirian.

Karena itu, ia meminta peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh, menjaga kesehatan, memperhatikan asupan makanan, serta aktif bertanya kepada pengajar jika terdapat materi yang belum dipahami.

Selain kompetensi kerja, Reny mengingatkan peserta untuk memahami etika, budaya, dan aturan di negara tujuan. Menurutnya, kemampuan beradaptasi diperlukan agar peserta dapat menjalankan pekerjaan sekaligus menjaga nama baik diri, keluarga, dan daerah asal.

“Jangan kita memalukan bangsa Indonesia, terutama Sulawesi Tengah sendiri,” pesannya.

Reny berharap pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi modal bagi peserta untuk membangun kemandirian, meningkatkan kepercayaan diri, serta mengembangkan kapasitas pribadi.

Ia juga memotivasi peserta agar tidak menutup kemungkinan untuk berkontribusi dalam pembangunan Sulawesi Tengah setelah memperoleh pengalaman di luar negeri.

“Tidak menutup kemungkinan adik-adik yang ada di ruangan ini nanti menjadi Wakil Gubernur,” katanya.

Reny meminta para peserta berani mengambil kesempatan dan terus mengembangkan diri, namun tetap menjaga sikap, etika, serta menghormati aturan dan budaya di negara tempat mereka bekerja.

Turut hadir Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Mustaqim Ode Musnal, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah Firmanza DP, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Tengah Muh. Syahrul Syam, peserta Kick Off SMK Go Global, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.