Opini: Politik itu kejam, Acapkali nggak tegaan, sekarang berteman besok belum tentu..Begitulah.
Banyak contoh terjadi, saat berjuang seiring jalan, setelah capai tujuan, nggak lagi jalan bersama.
Belakangan lagi santer desas-desusnya disejumlah warung kopi dan beberapa tempat sentral di kota palu, soal pecah-kongsi dua Tokoh politik di Sulawesi Tengah.
H.Rusdi Mastura Gubernur Sulteng yang familiar dengan panggilan Bung Cudy, Politisi gaek yang akrab dengan kalangan aktifis NGO dan mahasiswa, serta warga Kota Palu, Dia telah mewarnai dinamika politik Sulteng sejak era 1980 an, .yaa sekitar 30-an tahun terakhir
Ahmad Ali Anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua Umum DPP Partai Nasdem. Oleh kadernya akrab disapa dengan panggilan Kak.Mad. Meski baru mewarnai politik Sulteng di era 2000-an, sekitar 15 tahun terakhir, Namun politisi hebat ini melesat cepat dari politisi kabupaten ke level elit politik Nasional.
Cudy – Ahmad Ali adalah dua kutub personifikasi politik beda generasi yang saat ini telah menjadi sentra kebesaran dan kekuatan politik Sulawesi Tengah.
Lewat tangan dingin Cudy – Ahmad Ali, untuk pertama kali terukir dalam sejarah politik Sulteng, sentra kekuatan eksekutif dan legislatif menyatu, dalam satu poros dan gerbang politik yang sama.
Adalah Hj.Nilam Sari Lawira kader Partai Nasdem yang juga istri Ahmad Ali yang menduduki kursi Ketua DPRD Sulteng, dan Bung Cudy yang juga kader partai Nasdem yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Sulteng, sekaligus Partai Nasdem menguasai hampir semua jabatan Ketua dan Wakil Ketua di Parlemen di Sulawesi Tengah, baik Kota Palu dan Kabupaten.
Karenanya mimpi besar untuk menjadikan Sulteng maju dan sejahtera bukanlah hal mustahil, apalagi sumbu penggerak roda pemerintahan Sulteng dikendalikan penuh sosok pemimpin yang berpengalaman, merakyat dan memiliki pikiran-pikiran progresif (Out Of The Box / Keluar Dari Kotak).
Sayang sekali, desas-desus pecah-kongsi Cudy-Ahmad Ali makin menguat, bukan lagi hanya terdengar dikisaran warkop, tapi sudah menggema liar diberbagai profesi dan kalangan, serta orang – orang terdekat dari kedua Tokoh Politisi ini.
Dalam sejumlah kesempatan, ada suara- suara yang mengklarifikasi soal desas-desus pecah kongsi Cudy -Ahmad Ali, bahkan dalam sebuah kesempatan diacara internal partai Nasdem sendiri.
Walaupun baru-baru ini, Ahmad Ali masih mengisyaratkan dukungan Partai Nasdem untuk Bung Cudy maju lagi di 2024, sekalipun tetap dengan sejumlah catatan-catatan.
Kita sering berucap, jangan terlampau percaya ungkapan politisi, lihat dan cermati kebijakan-kebijakannya serta pahami benar peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Ada peristiwa, saat Gubernur Cudy mengangkat Ketua DPW Partai Nasdem Sulteng Atha Mahmud sebagai Tenaga Ahli Gubernur, sejurus waktu kemudian DPP Partai Nasdem mencopot Atha Mahmud sebagai Ketua DPW Partai Nasdem Sulteng, dengan dalil supaya lebih fokus jalankan tugas sebagai tenaga ahli gubernur.
Seakan berbalas pantun, ada lagi peristiwa ketika Direktur RSU Undata Palu Drg.Heri Mulyadi didaulat dan dilantik sebagai Ketua DPD DMI Kota Palu oleh Ketua DPW DMI Sulteng Ahmad Ali. Beberapa hari kemudian secara terbuka Drg.Heri Mulyadi nyatakan pengunduran diri sebagai Ketua DMI Kota Palu, dengan alasan klasik, supaya lebih fokus jalankan jabatan sebagai Direktur RSUD Undata.
Desas-desus pecah kongsi Cudy-Ahmad Ali yang makin menguat, seakan dipertegas oleh sejumlah peristiwa konon salah satunya saat proses pemilihan Calon Ketua KONI Sulteng saat itu, ada momentum usulan berbeda dukungan baik dari Kak Mat Ali dan Bung Cudy, yang telah terjadi, miris, bikin sulteng mewek.
Di momentum Hari Raya Idul Fitri 1 syawal 1443 H ini, kita masih berharap, desus-desus pecah kongsi Cudy -Ahmad Ali berakhir sudah, Sulteng Maju dan Sejahtera yang menjadi mimpi, hanya bisa terwujud, jika Cudy -Ahmad Ali kembali duduk semeja, bergandeng tangan dan kembali jalan seiring untuk Sulawesi Tengah.##
Penulis :
Irfan Denny Pontoh Sekretaris Nasional FPII

